Sabtu, 27 Mei 2017

SISTEM INFORMASI PEMASARAN

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
Sistem Informasi Pemasaran

NAMA KELOMPOK (SM10) :

Sekar Arum Pujiningrat                                  1410209318
Tyas Kurnia Hilmy                                          1410209380
Kuntum K. M. Maskat                                    1410209381
Berliana Fernanda                                           1410209387
Azizah                                                             1410209424


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA
(STIESIA) SURABAYA




BAB 9
SISTEM INFORMASI PEMASARAN

9.1. Struktur Organisasi Fungsional
Perusahaan bisnis secara tradisional telah diatur dalam hal tugas-tugas, atau fungsi-fungsi, yang dilaksanakan. Semua jenis organisasi memiliki fungsi pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, dan jasa informasi. Perusahaan yang memiliki fungsi manufaktur adalah perusahaan yang memproduksi produk yang dijualnya, dan penelitian dan pengembangan.

Risiko Menekankan Sistem Informasi Fungsional
Subsistem fungsional harus mengambil sebagian datanya database umum, dan keputusan yang dibuat di suatu era harus sesuai dengan keputusan yang dibuat di area lainnya dan dengan tujuan keseluruhan perusahaan. Dalam antusiasme yang tinggi untuk menerapkan komputer, pemasar membangun suatu dasar teoritis yang kokoh yang menjadi landasan bagi semua area fungsional.

9.2. Prinsip Pemasaran
Pemasaran “terdiri dari kegiatan perorangan dan organisasi yang memudahkan dan mempercepat hubungan pertukaran yang memuaskan dalam lingkungan yang dinamis melalui penciptaan, pendistribusian, promosi dan penentuan harga, jasa dan gagasan.”
Pandangan ini menunjukkan luasnya permasalahan yang harus dipecahkan oleh manajer pemasaran demikian pula luasnya informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah-masalah itu.

Bauran pemasaran
Manajer pemasaran memiliki beragam sumber daya untuk dikaryakan. Tujuannya untuk mengembangkan strategi yang menerapkan sumber daya ini bagi pemasaran barang, jasa dan gagasan pemasaran.
Strategi pemasaran terdiri dari campuran unsur-unsur yang dinamakan bauran pemasaran (marketing mix): produk, promosi, tempat dan harga (product, promotion, place, and price). Semua itu dikenal sebagai 4P. Produk (product) adalah apa yang dibeli oleh pelanggan untuk memuaskan keinginannya atau kebutuhannya. Produk dapat berupabarang fisik, berbagai jenis jasa, atau suatu gagasan. Promosi (promotion) berhubungan dengan semua cara yang mendorong penjualan produk, termasuk periklanan dan penjualan langsung. Tempat (place) berhubungan dengan cara mendistribusikan produk secara fisik kepada pelanggan melalui saluran distribusi. Harga (price) terdiri dari semua elemen yang berhubungan dengan apa yang dibayar oleh pelanggan untuk produk itu.

9.3. Model Sistem Informasi Pemasaran
Sistem informasi pemasaran merupakan subset dari sistem informasi manajemen yang menyediakan informasi untuk memecahkan masalah pemasaran perusahaan.
Gambar 3 menunjukkan struktur dasar sistem informasi pemasaran. Subsistem input mengumpulkan data dan informasi, yang dimasukkan ke dalam database. Subsistem output terdiri dari program-program komputer yang mengubah.


Subsistem Input Pemasaran
Banyak dari data dan informasi pemasaran disediakan oleh sistem informasi akuntansi. Input ini menyediakan catatan kegiatan penjualan yang terinci, yang dapat menjadi menjadi dasar bagi laporan periodik dan khusus, atau model matematika.
Subsistem penelitian pemasaran (marketing research subsystem) mengumpulkan data mengenai segala aspek operasi pemasaran penjualan namun terutama aspek-aspek yang berkaitan dengan pelanggan atau calon pelanggan. Data dikumpulkan terutama melalui survei.
Subsistem intelijen pemasaran (marketing intelligence subsystem) mengumpulkan data dan informasi mengenai pesaing perusahaan, secara historis sistem ini telah beroperasi secra informal. Misalnya, wakil pemasaran perusahaan berbelanja di toko pesaing dan mengikuti kunjungan ke kantor dan pabrik pesaing. Namun, belakangan ini, kegitan membeli intelijen dalam bentuk database komersial semakin meningkat.
Kegiatan intelijen dari sistem informasi fungsional merupakan suatu kegiatan yang etis dan jangan dirancukan dengan spionase industri, yang merupakan suatu bentuk memata-matai.

Subsistem Output Pemasaran
Semua produk dan jasa yang ditawarkan oleh fungsi pemasaran disebut juga bauran pemasaran (marketing mix), yang mencakup produk; tempat produk itu dijual; promosi, seperti penjualan langsung atau periklanan; dan harga produk.
Model ini menggunakan campuran unsur-unsur itu sebagai cara mengklarifikasikan subsistem output. Semua perangkat lunak yang menginformasikan manajer mengenai produk tercakup di dalam subsistem produk. Semua perangkat lunak yang menjelaskan cara produk didistribusikan ke pelanggan tercakup di dalam subsistem tempat. Perangkat lunak yang memberitahukan manajer mengenai penjualan langsung dan periklanan berada di dalam subsistem promosi, dan semua informasi mengenai harga disediakan oleh subsistem harga. Manajer dapat menggunakan subsistem-subsistem ini secara terpisah atau gabungan. Integrated-mix subsystem memungkinkan manajer mengembangkan strategi pemasaran yang menggunakan campuran unsur-unsur secara gabungan.
Tiap kotak subsistem output pada model dapat mewakili berbagai macam komputer. Ada program yang mencetak atau menampilkan laporan periodik, program yng memudahkan database query, serta program yang berfungsi sebagai model matematika.

9.4. Evolusi Konsep Sistem Informasi Pemasaran
 Pada tahun 1966 Profesor Philip Kotler dari Northwestern University ity menggunkan istilah pusat saraf pemasaran (marketing nerve center) untuk menggambarkan suatu unit baru di dalam pemasaran yang mengumpulkan dan mengolah informasi pemasaran. Ia mengidentifikasi tiga jenis informasi pemasaran.
·      Intelijen pemasaran (marketing intelligence) – informasi yang mengalir ke perusahaan dari lingkungan.
·      Informasi pemasaran intern (internal marketing information) – informasi yang dikumpulkan di dalam perusahaan.
·      Komunikasi pemasaran (marketing communication) – informasi yang mengalir keluar dari perusahaan ke lingkungan.
Sistem informasi pemasaran (marketing information system), atau MKIS, sebagai suatu sistem berbasis komputer yang bekerjasama dengan sistem informasi fungsional lain untuk mendukung manajemen perusahaan dalam menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan pemasran produk perusahaan.

Model Kotler
Selama periode 1967-1974, tidak kurang dari lima model MKIS dijelaskan dalam literatur. Intinya terdiri dari empat subsistem: akuntansi internal, intelijen pemasaran, penelitian pemasaran, dan management science pemasaran. Subsistem-subsistem ini mengambil data dari lingkungan dan mengubahnya menjadi informasi bagi eksekutif pemasaran. 
Dengan menyertakan sistem akuntansi internal  Kotler mengakui adanya hubungan simbiosis, atau ketergantungan antara berbagai fungsi dalam perusahaan. Sistem akuntansi internal memberikan suatu ikatan barsama diseluruh perusahaan. 
Sistem intelijen pemasaran terutama berhubungan dengan penyebaran informasi untuk menyadarkan manajemen tentang perkembangan-perkembangan baru di pasar. Sistem pemelitian pemasaran memiliki dua tujuan (1) mendapatkan data terbaru yang menjelaskan operasi pemasaran, dan (2) menyajikan penemuan itu bagi manajemen dalam bentuk yang memudahkan pengambilan keputusan.

Sistem management science pemasaran menekankan penggunaan teknik kuantitatif yang canggih, seperti model matematika. Kotler melihat bahwa eksekutif pemasaran menggunakan output informasi untuk perencanaan, pelakinformasi untuk perencanaan, pelakinformasi untuk perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian.


DAFTAR PUSTAKA
McLeod, Raymond. Sistem Informasi Manajemen, edisi terjemahan. PT Bhuana Ilmu Populer; Jakarta. 1995

Minggu, 07 Mei 2017

Sistem Informasi Eksekutif

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
“Sistem Informasi Eksekutif”


Nama Kelompok (SM 10):
Sekar Arum Pujiningrat                              1410209318
Tyas Kurnia Hilmy                                      1410209380
Kuntum K.M. Maskat                                 1410209381
Berliana Fernanda                                       1410209387
Azizah                                                         1410209424
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA
(STIESIA) SURABAYA






SISTEM INFORMASI EKSEKUTIF

8.1. Karakteristik Sistem Informasi Eksekutif
Sistem informasi eksekutif (Executive information system), atau EIS merupakan suatu sistem yang khusus dirancang bagi manajer pada tingkat perencanaan strategis. Sistem informasi eksekutif sekarang merupakan salah satu area komputasi bisnis yang termarak.
·   Meringkas, memfilter dan memperoleh detail data. Sistem informasi eksekutif dibuat untuk menampilkan grafik dan laporan dari proses bisnis sebuah organisasi atau perusahaan. Dimana data tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan kedepannya.
·   Menyediakan analisis kecenderungan, pelaporan perkecualian dan kemampuan drill-down. Drill down merupakan fasilitas berupa tombol atau link yang bilamana diklik akan menampilkan detail data dari data umum yang diklik tadi.
·   Dapat memadukan data eksternal dan internal.
·   Easy to use. Inilah hal utama yang membedakan Sistem informasi eksekutif dengan sistem yang lainnya. Kemudahan dalam penggunaan merupakan harga mati dalam pembuatan sistem informasi eksekutif, baik desain sistem maupun desain interface.
·   Dapat langsung digunakan oleh eksekutif. Ini tak lepas dari kemudahan penggunaan pada poin sebelumnya.
·  Menyajikan informasi laporan dalam berbagai bentuk. Umumnya sistem informasi eksekutif  menampilkan data berupa grafik dan laporan.
·   Beberapa sistem informasi eksekutif memiliki fitur-fitur fasilitas yang beraga. Tiap sistem informasi eksekutif memiliki perbedaan sendiri, tergantung pembuat sistem informasi eksekutif itu sendiri maupun keinginan pengguna (eksekutif).

Pandangan Eksekutif
Menurut Henry Fayol : Manajer melakukan fungsi-fungsi manajemen yang sama
Menurut Mintzberg : Manajer melakukan semua peran dengan orientasi berbeda (Keputusan)
Menurut Prof. John P. Kotler
Suatu Model Sistem Informasi Eksekutif
Suatu model EIS diperlihatkan pada gambar dibawah. Database perusahaan terutama berisi data dari SIA dan dilengkapi dengan kotak pos elektronik (electronic mail-boxes) yang digunakan eksekutif untuk mengirimkan dan menerima surat elektronik dan kalender elektronik, yang digunakan eksekutif untuk merencanakan pertemuan mereka. Para anggota staf memiliki kemampuan mentikkan berita dan penjelasan mutakhir.
Perangkat lunak EIS menggunakan isi database untuk menghasilkan tampilan yang telah disusun sebelumnya (preformatted) yang diturunkan (downloaded) ke workstation eksekutif dan disimpan di database eksekutif. Eksekutif memasukkan permintaan informasi dan menerima tampilan.
EIS tidak semuanya tebatas pada tampilan yang telah disusun sebelumnya, tetapi pendekatan itu merupakan yang paling populer.
1)      Memberikan dukungan komunikasi elektronik
Dimana terdapat jaringan komputer yang menghubungkan komuter server dengan komputer yang digunakan oleh para eksekutif.
2)      Mempunyai kemampuan menganalisa data
Data yang ditampilkan kepada para eksekutif berupa laporan dan grafik yang dijadikan sebagai alat untuk membantu pengambilan keputusan kedepannya.
3)      Mempunyai alat pengorganisasian 
Data yang ditampilkan tidak semua data yang ada, tetapi data yang telah diorganisasi sesuai dengan kebutuhan para eksekutif. 

8.2 Kebutuhan Informasi Eksekutif yang Unik
Penelitian Mintzberg
Mintzberg mendefinisikan 5 kegiatan dasar yang membentuk waktu CEO :
1.      Tugas administrasi (22 %)
2.      Panggilan telepon (6%)
3.      Pertemuan tidak terjadwal (10%)
4.      Pertemuan terjadwal (59%)
5.      Kunjungan (3%)
Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa Mintzberg menekankan peran sistem informal yang mengkomunikasikan informasi lisan, dan membuat kesimpulan sebagai berikut :
“ Tampaknya lebih penting bagi seorang manajer untuk mendapatkan informasi secara cepat dan efisien daripada mendapatkannya secara formal. “
Penelitian Jones dan McLeod
Hasil penelitian :
1.  Sebagian besar informasi eksekutif berasal dari sumber daya lingkungan (eksternal) tetapi informasi internal diberi nilai lebih tinggi.
2.  Sebagian besar informasi eksekutif berbentuk tertulis, tetapi informasi lisan diberi nilai lebih tinggi.
3.     Para eksekutif mendapatkan sangat sedikit informasi langsung dari komputer.

Penelitian Rockart dan Treacy
Hasil penelitian :
1.      Tujuan Sentral
Eksekutif menggunakan informasi dari komputer terutama dalam perencanaan dan pengendalian.
2.      Inti Data Bersama
Database berisi informasi mengenai berbagai data industri, pelanggan, pesaing dan unit-unit bisnis dalam tiga periode waktu, masa lalu, masa kini dan masa depan.
3.      Metode Penggunaan
Eksekutif menggunakan Sistem Informasi Eksekutif untuk mengakses status saat ini, memproyeksikan trend dan melakukan analisis pribadi atas data.
4.        Organisasi Pendukung
      Para eksekutif dibantu oleh :
·         Pelatih SIE (anggota staf eksekutif, jasa informasi atau organisasi konsultasi luar perusahaan).
·         Pengendali SIE (anggota staf eksekutif yang mengorganisasikan peralatan bagi eksekutif).

Menempatkan Komputer dalam Perspektif
Walau beberapa eksekutif sangat mengandalkan komputer, namun penggunaan komputer pada tingkat eksekutif lebih sedikit jika dibandingkan dengan tingkat lain, karena :
1.   Masalah pada tingkat eksekutif kurang terstruktur dan karena itu lebih sulit untuk didukung dengan pengolah komputer.
2.      Eksekutif cenderung lebih tua dan jarang mendapatkan kesempatan pelatihan komputer formal.

8.3 Saran-Saran Untuk Meningkatkan Sistem Informasi Eksekutif
Eksekutif harus mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan peran komputer dalam sistem informasi mereka. Tetapi dalam melakukan hal itu, eksekutif harus juga berusaha meningkatkan komponen-komponen nonkomputer. Terdapat lima langkah untuk mencapi tujuan tersebut :
            1.    Mencatat transaksi-transaksi informasi yang masuk.
Data (transaksi informasi yang masuk) dapat dimasukkan ke dalam database, dan dapat disiapkan laporan yang memungkinkan eksekutif untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan sistem mereka.
2.    Merangsang sumber-sumber bernilai tinggi.
Dengan teridentifikasinya sumber-sumber bernilai tinggi, eksekutif kemudian dapat bertindak untuk memudahkan komunikasi sumber-sumber tersebut.
3.    Memanfaatkan peluang
Jika sepotong informasi yang baik datang, eksekutif harus meraihnya.
4.    Menyesuaikan sistem pada perorangan
Tiap eksekutif memiliki gaya pengumpulan informasi yang unik. Apa yang baik bagi eksekutif mungkin tidak berhasil bagi yang lain.
5.    Memanfaatkan teknologi
Eksekutif umumnya berpikiran terbuka mengenai sistem informasi mereka dan akan mempertimbangkan cara apa pun untuk memperbaikinya. Membuat semua eksekutif mengetahui perkembangam teknologi informasi merupakan tanggung jawab organisasi jasa informasi yang penting.

8.4. Sistem Informasi Eksekutif Berbasis Komputer
Sistem informasi eksekutif (executive information system), atau EIS, merupakan suatu sistem yang menyediakan informasi bagi eksekutif mengenai kinerja keseluruhan perusahaan.
·      Model EIS
Konfigurasi EIS berbasis komputer biasanya meliputu satu komputer personal. Dalam perusahaan besar PC tersebut dihubungkan dengan mainframe. Konfigurasi perangkat kerasnya mencakup penyimpanan sekunder, kebanyakan  dalam bentuk hard disk, yang menyimpan database eksekutif. Database eksekutif berisi data dan informasi yang telah diproses sebelumnya oleh komputer sentral perusahaan.
·      Penyatuan konsep-konsep manajemen
Para eksekutif membangun EIS mereka diatas konsep-konsep dasar manajemen. Tiga konsep yang akan dibahas adalah :
1.    Faktor-faktor penentu keberhasilan
EIS memungkinkan eksekutif memantau seberapa baik perusahaan berjalan dalam hal tujuannya dan faktor-faktor penentu keberhasilannya. D. Ronald Daniel dari McKinsey & Company, menciptakan konsep faktor faktor penentu keberhasilan (critical succes factor). Ia merasa bahwa sejumlah kegiatan kunci, atau CSF, menentukan keberhasilan atau kegagalan segala jenis organisasi, dan CSF bervariasi dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya.
2.    Management by Exception
Tampilan layar yang digunakan eksekutif sering menyertakan mangement by exception dengan membandingkan kinerja yang dianggarkan dengan kinerja aktual. Perangkat lunak EIS dapat mengidentifikasi perkecualian-perkecualian secar otomatis dan membuatnya diperhatikan oleh eksekutif.
3.    Metode metal
    Peran utama EIS adalah membuat sintesis, atau menyarikan, data dan informasi bervolume besar untuk meningkatkan kegunaannya. Pengambilan sari ini disebut pemampatan informasi (information compression), dan menghasilkan suatu gambaran atau model metal, dari operasi perusahaan.


Daftar Pustaka 
Mcleod, Jr. Raymond. 1995. Sistem Informasi Manajemen, Jilid II. Jakarta : PT Prenhallindo

Sabtu, 15 April 2017

Implikasi Etis Teknologi Informasi

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
Implikasi Etis Teknologi Informasi


NAMA KELOMPOK (SM10) :

Sekar Arum Pujiningrat                                  1410209318
Tyas Kurnia Hilmy                                          1410209380
Kuntum K. M. Maskat                                    1410209381
Berliana Fernanda                                           1410209387
Azizah                                                             1410209424


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA

(STIESIA) SURABAYA



IMPLIKASI ETIS TEKNOLOGI INFORMASI

4.1 Kebutuhan Moral, Etika dan Hukum dalam Perilaku Pemakaian Teknologi Informasi
1.    Moral
Moral adalah tradisi kepercayaan mengenai prilaku yang benar dan yang salah, atau institusi sosial dengan sejarah dan seperangkat aturan.
2.    Etika
Kata etika berasal dari bahasa Yunani ethos, yang berarti “karakter”. Etika (ethics) adalah sekumpulan kepercayaan, standar, atau teladan yang mengarahkan, yang merasuk ke dalam seseorang atau masyarakat.
Menurut Richard Masson, masalah etika Teknologi Informasi diklasifikasi menjadi empat hal sebagai berikut berikut :
a.    Privasi, yaitu hak individu untuk mempertahankan informasi pribadi dari pengaksesan orang lain yang memang tidak berhak untuk melakukannya.
b.    Akurasi, layanan informasi harus diberikan secara tepat dan akurat sehingga tidak merugikan pengguna informasi.
c.    Property, perlindungan kekayaan intelektual yang saat ini digalakkan oleh HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) mencakup tiga hal :

·  Hak cipta (copy right),hak yang dijamin kekuatan hukum yang melarang menduplikasi kekayaan intelektual tanpa seizin pemegangnya.Diberikan selama 50 tahun.
·  Paten,bentuk perlindungan yang sulit diberikan karena hanya diberikan bagi penemuan inovatif dan sangat berguna.Berlaku selama 20 tahun.
·  Rahasia perdagangan, perlindungan terhadap kekayaan dalam perdagangan yang diberikan dalam bentuk lisensi atau kontrak.
d.   Akses,  Semua orang berhak untuk mendapatkan informasi.Perlu layanan yang baik dan optimal bagi semua orang dalam mendapatkan informasi yang diinginkan.
Contoh :
Di beberapa Negara praktik ini lebih menyebar dibanding dengan Negara lain. Sebagai contoh kasus, pada tahun 1994, diperkirakan sekitar 35% peranti lunak yang digunakan di AS telah dibajak, dan kemudian angka ini melonjak menjadi 92% di Jepang, dan 99% di Thailand.
3.    Hukum
Hukum (law) adalah peraturan prilaku formal yang ditetapkan oleh otoritas yang berwenang, seperti pemerintah, terhadap subjek atau warga negaranya.
-        Hacking/cracking
Tindakan pembobolan data rahasia suatu institusi, membeli barang lewat internet dengan menggunakan nomor kartu kredit orang lain tanpa izin (carding) merupakan contoh-contoh dari tindakan hacking. Orang yang melakukan hacking disebut hacker. Begitu pula dengan membuka kode program tertentu atau membuat suatu proses agar beberapa tahap yang harus dilakukan menjadi terlewatkan (contoh: cracking serial number) apabila dilakukan tanpa izin juga merupakan tindakan yang menyalahi hukum.
Meletakan Moral, Etika dan Hukum pada tempatnya
Penggunaan komputer di dunia bisnis diarahkan oleh nilai moral dan etis manajer, spesialis informasi, dan pengguna, serta hukum yang berlaku. Hukum adalah yang termudah untuk diiterpretasikan karena bersifat tertulis. Tetapi etika tidak terdefinisi demikian tepat, dan mungkin bahkan tidak disetujui oleh semua anggota masyarakat. Wilayah etika komputer yang  kompleks inilah yang saat ini sangat banyak diperhatikan. Sisa bab ini akan berfokus pada penggunaan teknologi informasi secara etis.

4.2 Eksekutif Menerapkan Kultur Etis
     Suatu perusahaan diharapkan menjadi perusahaan yang memiliki etika yang tinggi, maka semua tindakan, perilaku, dan perkataan para manajer terutama manajer tingkat atas selalu berpegang pada etika yang berlaku. Para manajer tingkat atas inilah yang harus memimpin dan memberi contoh bagi seluruh anggota organisasi dalam menerapkan etika perusahaan. Perilaku ini yang disebut budaya etika (ethics culture).

Bagaimana Budaya Etika Diterapkan
     Tugas para manajer tingkat atas adalah mengawasi apakah konsep-konsep etika dapat menjangkau seluruh anggota organisasi, mulai dari para manajer tingkat atas sampai keseluruh karyawan di tingkat bawah. Para eksekutif perusahaan menggunakan tiga tahap untuk menerapkan konsep-konsep etika ini. Tahap pertama adalah menetapkan credo perusahaan, tahap kedua adalah menetapkan program etika, dan yang ketiga menetapkan kode etik perusahaan.
a.       Corporate Credo
Corporate Credo (Credo Perusahaan) adalah peryataan ringkas mengenai nilai-nilai yang ditegakkan perusahaan. Tujuan credo ini adalah menginformasikan mengenai nilai-nilai etis perusahaan.
b.      Program Etika
Program Etika suatu sistem yang terdiri dari berbagai aktivitas yang dirancang untuk mengarahkan pegawai dalam melaksanakan corporate credo. Aktivitas-aktivitas ini biasanya diberikan pada beberapa sesi selama masa orientasi untuk para karyawan baru. Selama sesi ini subjek pembicaraan khusus difokuskan kepada masalah etika. Contoh lain dari program etika adalah audit etika. Di dalam suatu audit etika, seorang auditor internal mengadakan pertemuan dengan seorang manajer dalam beberapa sesi pertemuan untuk mempelajari bagaimana unit manajer tersebut menerapkan paham perusahaan. Dalam pertemuan itu auditor mungkin akan bertanya pada manajer penjualan apakah perusahaan perusahaan pernah kehilangan pelanggan karena tidak memberikan bonus kepada agen pembelian.
c.       Kode Etik Perusahaan
Banyak perusahaan yang merancang sendiri kode etik perusahaan mereka. Terkadang kode-kode etik ini merupakan adaptasi dari kode untuk industri atau profesi tertentu. Kode etik perusahaan menyangkut kebijakan etis perusahaan berhubungan dengan kesulitan yang bisa timbul (mungkin pernah timbul dimasa lalu), seperti konflik kepentingan, hubungan dengan pesaing dan pemasok, menerima hadiah, sumbangan dan sebagainya.
Contoh kode etik:
Ada empat asosiasi profesional komputer AS telah membuat kode etik sebagai panduan bagi para anggotanya, yaitu :
a)        Kode etik ACM (Association for Computing Machinery - 1947)
Kode perilaku profesionalnya menyatakan bahwa seorang anggota ACM selalu bertindak dengan integritas, berusaha meningkatkan kemampuannya serta kemampuan dan prestise profesinya, bertanggung jawab atas pekerjaannya, bertindak dengan tanggung jawa profesional, dan menggunakan pengetahuan dan keahlian khususnya untuk kesejahteraan umat manusia.
b)        Kode etik DPMA (Data Processing Management Association – 1951)
Misi dari DPMA adalah menjunjung manajemen informasi yang efektif dan bertanggung jawab untuk kebaikan para anggotanya, para pemberi kerja, dan masyarakat bisnis. Kode etik DPMA terdiri dari standar prilaku yang menguraikan kewajiban manajer pengolahan data pada manajemen perusahaan, rekan anggota DPMA dan profesi, masyarakat dan pemberi kerja.
c)        Kode etik ICCP (Institute for Certification of Komputer Professionals – 1973)
Maksud dari ICCP adalah memberi sertifikasi kepada para profesional komputer, yang meliputi certified computer programmer (CCP), certified in data processing (CDP). Hal tersebut harus ditempuh dengan ujian dan harus setuju dengan kode etik ICCP. Kode etik ICCP ada yang bersifat permanen dan dapat diperbaharui secara berkala. Kode etik ICCP yang  menyatakan bahwa para anggotanya bertanggung pada pprofesi, pemberi kerja dan kliennya. Bile terjadi pelanggaran maka dapat mengakibatkan sertifikasinya dicabut.
d)       Kode etik ITAA (Information Technology Association America – 1961)
ITAA merupakan suatu asosiasi bagi organisasi-organisasi yang memasarkan perangkat lunak dan jasa yang berkaitan dengan komputer. Kode etik ITAA terdiri dari prinsip-prinsip dasar yang mengatur penilaian, komunikasi, dan kualitas jasa dengan klien. Perusahaan dan pegawai diharapkan menegakkan integritas profesional industri komputer.


4.3 Etika Memerlukan Eksekutif untuk Meletakkan Kebijakan Sesuai pada Tempatnya

Meletakkan Kredo, Program, dan Kode Pada Tempatnya
Kredo perusahaan memberikan dasar untuk pelaksanaan program etika perusahaan. Kode etik tersebut menggambarkan prilaku-prilaku tertentu yang diharapkan dilaksanakan oleh para karyawan perusahaan dalam berinteraksi antara satu dengan lain dan dengan elemen-elemen lingkungan perusahaan.

4.4 Manajemen Keamanan Teknologi Informasi
Keamanan Informasi atau Information Security adalah proteksi peralatan komputer, fasilitas, data, dan informasi, baik komputer maupun non-komputer dari penyalahgunaan oleh pihak-pihak yang tidak terotorisasi/ tidak berwenang. Tujuan dari manajemen keamanan adalah akurasi, integritas, serta keselamat dari seluruh pengelolaan dan sumber daya sistem informasi. Oleh karena itu, manajemen keamanan yang efektif akan meminimalkan kesalahan, penipuan, dan kerugian dalam sistem informasi yang saat ini menginterkoneksikan perusahaan dan pelanggan mereka, serta pemasok dan pihak yang berkepentingan lainnya.
Keamanan Teknologi Informasi atau IT Security mengacu pada usaha-usaha mengamankan infrastruktur teknologi informasi dari  gangguan-gangguan berupa akses terlarang serta utilisasi jaringan yang tidak diizinkan. Berbeda dengan keamanan informasi yang fokusnya justru pada data dan informasi milik perusahaan.  Pada konsep ini, usaha-usaha yang dilakukan adalah merencanakan, mengembangkan serta mengawasi semua kegiatan yang terkait dengan bagaimana data dan informasi bisnis dapat digunakan serta diutilisasi sesuai dengan fungsinya serta tidak disalahgunakan atau bahkan dibocorkan ke pihak-pihak yang tidak berkepentingan.
Keamanan informasi terdiri dari perlindungan terhadap aspek-aspek berikut:
1.      Confidentiality (kerahasiaan) aspek yang menjamin kerahasiaan data atau informasi, memastikan bahwa informasi hanya dapat diakses oleh orang yang berwenang dan menjamin kerahasiaan data yang dikirim, diterima dan disimpan.
2.      Integrity (integritas) aspek yang menjamin bahwa data tidak dirubah tanpa ada ijin pihak yang berwenang (authorized), menjaga keakuratan dan keutuhan informasi serta metode prosesnya untuk menjamin aspek integrity ini.
3.      Availability (ketersediaan) aspek yang menjamin bahwa data akan tersedia saat dibutuhkan, memastikan user yang berhak dapat menggunakan informasi dan perangkat terkait (aset yang berhubungan bilamana diperlukan).

Keamanan bisa dicapai dengan beberapa strategi yang biasa dilakukan secara simultan atau digunakan dalam kombinasi satu dengan yang lainnya.
·         Physical Security yang memfokuskan strategi untuk mengamankan pekerja atau anggota organisasi, aset fisik, dan tempat kerja dari berbagai ancaman meliputi bahaya kebakaran, akses tanpa otorisasi, dan bencana alam.
·         Personal Security yang overlap dengan ‘phisycal security’ dalam melindungi orang-orang dalam organisasi.
·         Operation Security yang memfokuskan strategi untuk mengamankan kemampuan organisasi atau perusahaan untuk bekerja tanpa gangguan.
·         Communications Security yang bertujuan mengamankan media komunikasi, teknologi komunikasi dan isinya, serta kemampuan untuk memanfaatkan alat ini untuk mencapai tujuan organisasi.
·         Network Security yang memfokuskan pada pengamanan peralatan jaringan data organisasi, jaringannya dan isinya, serta kemampuan untuk menggunakan jaringan tersebut dalam memenuhi fungsi komunikasi data organisasi.

Pertahanan Keamanan Antarjaringan
Keamanan dari jaringan perusahaan bisnis saat ini merupakan tantangan manajemen yang paling utama. Beberapa pertahanan keamanan yang penting:
1.    Enkripsi
Enkripsi data telah menjadi sebuah cara yang penting untuk melindungi data dan sumber daya jaringan komputer, khususnya Internet, intranet, dan ekstranet. Kata sandi, pesan, arsip dan data lain yang dapat ditransmisikan dalam bentuk yang beraturan dan tidak beraturan oleh sistem computer hanya untuk pengguna terotorisasi.
2.    Firewall
Firewall bertindak sebagai sistem penjaga gerbang yang melindungi intranet perusahaan dan jaringan computer lain dari penyusupan. Dalam beberapa kasus, Firewall dapat memudahkan akses dari lokasi yang terpecaya dalam Internet computer tertentu di dalam Firewall atau dapat mengizinkan hanya informasi yang aman untuk melewatinya. Contohnya firewall dapat mengizinkan pengguna untuk membaca surat elektronik dari lokasi yang jauh, tetapi tidak menjalankan program tertentu.
3.    Pengawasan Surat Elektronik
Internet dan sistem surat elektronik online lain adalah salah satu tempat favorite serangan oleh peretas untuk menyebarkan virus komputer atau menyusup kedalam jaringan komputer. Surat elektronik juga merupakan tempat pertarungan bagi perusahaan untuk mendorong kebijakan melawan pesan yang tidak resmi, pribadi, atau perusakan yang dilakukan oleh karyawan dengan permintaan beberapa karyawan dan yang melihat kebijakan tersebut sebagai pelanggaran kebebasan privasi.
4.    Pertahanan dari Virus
Banyak perusahaan membangun pertahanan melawan penyebaran virus dengan memusatkan distribusi dan memperbarui perangkat lunak antivirus sebagai sebuah tanggung jawab dari departemen SI (Standar Internasional) mereka. Perusahaan lain mengalihkan tanggung jawab perlindungan virus kepenyedia layanan internet, telekomunikasi, atau perusahaan manajemen keamanan mereka.
            Satu alasan untuk trend ini yaitu perusahaan perangkat lunak antivirus utama seperti Trend Micro (eDocter dan PC-cillin), McAfee (virus scan) dan Symantec (Norton antivirus) telah membangun versi jaringan dari program mereka.


Daftar Pustaka:
1. McLeod, Raymond. 2008. Sistem Informasi Manajemen, edisi 10. Jakarta : Salemba Empat